DEDIKASI DAN
CINTA GURU
Guru yang berhasil
dalam hidupnya adalah guru yang mencintai profesi dan anak anak didiknya.Cinta
guru terhadap profesinya bisa berwujud
profesionalisme,totalitas,ketulusan,kesabaran,dan kerelaan menghadapi resiko
resiko yang harus ditanggung. Adapun cinta guru kepada siswa terwujud melalui
kedekatan , keakraban, penerimaan yang tulus,atau cairnya hubungan yang
terbangun bersama mereka. Curahan cinta, kasih dan saying guru kepada siswa akan
menghasilkan sesuatu yang spektakuler yaitu respons balik dari siswa berupa
cinta,kepatuhan,dan prestasi.
Semua hal itu,
berlangsung secara timbal balik,memunculkan suatu interaksi proses belajar
mengajar yang menggairahkan ,mencerdaskan, dan mencerahkan antara guru dengan
siswa.Lalu darimana kita dapat mengidentifikiasi terjadinya proses yang dasyat
itu,,,,,,,,,,,,
Sekurang kurangnya ada
tiga hal yang menjadi indicator cinta seorang guru terhadap profesi dan anak
anak didiknya. Pertama,pasokan energy yang berlimpah. Kedua,kesediaan untuk
berkorban. Ketiga, kesiapan untuk selalu memberi yang terbaik. Dari ketiga itu
bisa dijadikan tolak ukur ,apakah seorang guru sudah menjalani profesinya
berdasarkan cinta ataukah belum.Di sisi lain, ketiga hal itu juga bisa membuat
seorang guru merasa nikmat dalam menjalani profesinya,sehingga tak terasa
terbebani dengan apapun yang terjadi di kelas terhadap guru
tersebut,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,Bahkan,profesi
guru akan terasa sebagai hiburan yang menyenangkan dan dengannya ia memperoleh
kepuasan batin.
Pada akhirnya,guru
bakal mampu menunjukan dedikasi terhadap profesinya,sebab hanya cinta
,kasih,dan sayanglah yang menjadi landasannya.
@PASOKAN
ENERGI YANG BERLIMPAH……………..,,,,,,,,,,,,,,,,,;;;;;;;;;;;;;;
Orang yang jatuh cinta akan memiliki pasokan energy luar biasa.Ibarat
remaja yang sedang kasmaran karena cinta pertama,bila sudah janjian untuk
bertemu dengan kekasihnya, maka seolah olah tak satupun perkara bisa
menggagalkannya.Tempat yang jauh tak membuatnya ciut,hujan lebat tak membuatnya
surut,jalan sepi tak membuatnya takut.Bahkan,banyak remaja yang tanpa malu
berbaku hantam,hanya untuk memperebutkan gadis yang dicintainya. Semua itu
dilakukan dengan penuh semangat,jauh dari kata terpaksa.Yang ada didalam benak
orang yang kasmaran hanyalah bayangan akan kebahagian tiada tara,jika tekad
untuk bertemu sang kekasih terlaksana,ia tahu,segala pengorbanan yang
diberikannya akan terbalas oleh keindahan tak terkira.
Ada cerita dari seorang teman.Ia adalah seorang guru,sekali waktu ia
sedang bercerita kepada ibunya ,tentang kenakalan siswa yang terjadi di
sekolah.Tetapi rupanya cerita itu didengar oleh ayahnya,yang sejak awal tidak
setuju anaknya memilih profesi guru.” Kamu ini aneh ,ditawari pekerjaan yang
lebih baik tidak mau.Eee……malah memilih pekerjaan yang selalu membuat susah
diri sendiri seperti itu,”,,,,,keluh sang ayah.”saya sedang bercerita ayah
,bukan sedang mengeluh,”,,,,,,jawab teman guru itu seketika.Sang ayah balik
bertanya ,”tapi kamu punya apa dari pekerjaanmu selama ini,selain masalah dan
masalah?,,,,Teman saya menjawab dengan mantap,”saya punya kepuasan batin.saya
punya kebahagiaan.
Dari jawaban itu, tampak sekali bahwa rekan saya itu,memiliki cadangan
energy yang luar biasa besar,untuk mengatasi masalah yang bisa menghambatnya
termasuk berondongan kesangsian sang ayah.Inilah yang diperlukan guru,demi
kesuksesan dalam menjalani profesinya.,,,,,,,,,,,,,,,,,
Sayangnya, yang sering tampak pada banyak guru bukanlah sikap tangguh seperti
itu.Kadang kadang ,baru merasa tidak
mendapat dorongan dari orang di sekelilingnya saja,semangat seorang guru,sudah
kendor.Bahkan,ada juga guru yang sebenarnya selalu mendapat dorongan dan
motivasi dari sanak kerabatnya,namun tetap saja pendiriannya tidak bertambah
kokoh.Hal seperti ini terjadi karena
motivasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri.(berupa kecintaan profesi)
belumlah kuat.Maka,wajar saja bila cadangan energinya selalu habis,tiada energy
yang tersedia setiap saat yang akan membuatnya mampu untuk terus bertahan
dengan segenap keyakinan.
@KESEDIAAN
BERKORBAN,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Seorang kepala sekolah
mengungkapkan keheranannya terhadap perilaku beberapa guru.Menurutnya “mereka
banyak menuntut”.Bayangkan ada sebagian dari mereka yang sudah diberi motivasi,diikutkan
seminar dan pelatihan ,diberi banyak fasilitas ,namun tetap saja tak mampu
menumbuhkan semangat ngajarnya.Bukan peningkatan kualitas sumber daya yang
didapat di sekolah tapi justru keluhan keluhan tentang capainya mengikuti
acara,kurangnya akomodasi ,dan anggapan
miring tentang penyelenggaraan acara itu, “enggak banyak manfaatnya,Cuma buang
buang waktu dan tenaga.Seharusnya libur malah masuk seharian,,,,,;”begitu
kurang lebih komentar mereka.
Kondisi tersebut sangat
berkebalikan dengan cerita berikut.Ada seorang guru yang selalu membiayai
dirinya sendiri ,agar bisa mengikuti kegiatan kegiatan yang dia anggap dapat
mendukung profesinya .Disela waktu mengajar ,ia masih menyempatkan diri membaca
buku, serta mengikuti seminar seminar.Semua dilakukan untuk menambah wawasan
dan memperkaya dirinya dengan banyak metode serta kreativitas dalam mengajar.Ia
rela mengeluarkan biaya yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabnya.
Suatu ketika,upaya
keras guru yang kreatif ini mendapat perhatian dari sebuah lembaga
internasional.Diapun ditawari untuk berkeliling dunia,mengunjungi sekolah
sekolah diberbagai Negara .Tak tanggung tanggung ,dia diminta menjadi duta misi
untuk memberi semangat kepada para guru didaerah didaerah yang dikunjunginya.Namun
,tak disangka ,tawaran itu ditolaknya.Alasannya sungguh mengejutkan ;ia tak mau
jika harus meninggalkan anak anak didiknya terlalu lama.
Sikap sang guru sejati
itu memang sekilas tampak kurang pas. Mengapa peluang emas yang amat berharga
dilepasnya begitu saja? Pedahal bukankah pengalamannya mengikuti program studi
banding itu,juga akan memperkaya wawasan yang sungguh bermanfaat baginya,bagi
sekolahnya,dan bagi para muridnya?
Namun,soal ini akan
terlihat wajar bila dilihat dengan kacamata cinta.Cinta terhadap anak anak
didiknyalah yang menumbuhkan kerelaan berkorban di dalam diri guru yang luar
biasa ini.Dari kesiapan berkorban itu,sang guru akan selalu bisa mengatasi
kesulitan kesulitan yang ditemuinya dalam mengembangkan diri.Dampaknya ,dia
selalu ingin mempelajari sebanyak mungkin pengetahuan dan keterampilan,yang
semuanya ia persembahkan kepada murid murid yang disayanginya,serta profesi
yang dicintainya.
Dari kedua cerita
diatas,semoga saja ada pelajaran yang dapat kita ambil.Tampak sekali perbedaan
antara guru yang menjalani profesinya berlandaskan cinta,dengan menjadi guru
karena terpaksa.Kreativitas guru muncul takala komitmen , konsentrasi, dan
dedikasi dicurahkan sepenuhnya bagi keberhasilan proses pendidikan dan kemajuan
anak anak didiknya.
@SELALU INGIN
MEMBERI YANG TERBAIK,,,,,………….
Masih ingatkah dengan lagu yang berjudul “kasih ibu” yang sangat dikenal
anak anak Indonesia itu,apakah makna lagu itu bagi guru.
Dengan bermodalkan kasih sayang total,seorang ibu mampu berperan laksana
matahari bagi anak anaknya .Dengan ketulusannya ,sang matahari terus menerus
menyinari dan menghangatkan bumi.Matahari tahu bahwa bumi sangat membutuhkan
sinarnya.Apa jadinya bumi tanpa sinar dan kehangatan yang dicurahkan matahari?
Atau dalam konteks hubungan ibu dan anak,bagaimana perkembangan anak bila
ibunya sendiri tak mencintai? Kira kira,begitulah yang mendasari sikap
istiqomah matahari terhadap bumi,ibu terhadap anaknya,dilihat dari prespektif
cinta,kasih dan sayang.Matahari tiada mengharapkan secuilpun balasan atas
curahan sinar dan kehangatannya,ibu terhadap anak pun demikian.
Mau tak mau ,seorang guru mengalami nasib seperti matahari.Diniatkan
atau tidak,ia memberi sesuatu kepada orang lain yang belum tentu akan memberikan
balasan setimpal kepadanya.Guru mendidik anak orang lain,yang ia bimbing dan ia
besarkan adalah asset orang lain.Jika pendidikan dari guru membawa hasil bagi
seorang anak,orang pertama yang akan menikmati hasil itu pastilah orang
tuanya,bukan gurunya.
Bayangkan,misalnya seorang siswa yang dulu dididik seorang
guru,dikemudian hari berhasil menjadi presiden. Sekarang ,ia berada sangat jauh
dari tempat tinggal gurunya. Dia tinggal di Istana Negara ,sedangkan gurunya
tetap tinggal dirumah sederhana tipe 21 an.Siapa kira kira orang pertama yang
paling mendapat kehormatan dengan prestasi si anak? Pastilah kedua orang tua
kandungnya terlebih dahulu.Merekalah yang barangkali akan diboyong ke ibukota
untuk tinggal bersama sang anak,di istana kepresidenan .Kedua orang tua
kandungnya itulah yang akan segera menikmati nama besar yang berhasil dicapai
anaknya.Bagaimana dengan gurunya ? sang guru akan tetap harus melalui prosedur
protokoler istana Negara yang rumit dan berbelit belit.
“Ibarat bamboo,nasib murid setinggi betung,tapi nasib guru setinggi ruas
ruasnya.”begitu kata sebuah pepatah.Boleh jadi muridnya besok menjadi orang
orang sukses,terkenal di seantero negeri.Ada yang jadi
gubernur,pengusaha,artis,ilmuwan,dan sebagainya. Namun , seorang guru tetaplah
guru dengan penghasilan dan popularitas yang tak sebanding dengan apa yang
telah diraih murid muridnya itu.
Meski demikian,dengan cinta dan ketulusan di dalam dada,semua itu tidak
membuat guru surut dari kesetiaan dalam menunaikan tugasnya yang mulia.Cinta
telah membuat guru tak mengharapkan balasan apa pun dari semua yang telah ia
lakukan.Cinta telah membuat guru memberikan semua yang di milikinya ,pengajaran
ilmu dan budi pekerti,agar dimiliki anak anak didiknya.Semua tanpa syarat atau
agunan.Inilah salah satu indikasi cinta,bila guru betul betul telah mendasari
semua aktivitasnya dengan cinta.
Ya,cinta akan mampu membuat seseorang senantiasa memberikan yang terbaik
kepada yang dicintainya.Ia tidak mengharapkan apa pun dari pemberian
pemberiannya.Balasan apa yang lebih diharapkan selain balasan berupa cinta itu
sendiri,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,…….
No comments:
Post a Comment