Thursday, 10 May 2012

KARTINI INDONESIA BARU

      KARTINI INDONESIA BARU
Tutty Alawiyah dilahirkan untuk berdakwah.Sebutan ini tidaklah berlebihan jika ditelusuri jejak langkahnya . Semenjak usia 9 tahun ,Tutty Alawiyah sudah berdakwah menyiarkan agama Islam. Di bawah naunganan Perguruan As-Syafi’iyah yang didirikan tahun 1933 oleh ayahnya,Tutty membangun Pesantren Putra Putrid an yatim piatu,Pesantren Tinggi Darul Agama,Sekolah Tinggi Wiraswasta,serta Universitas Islam As-Asyafi’iyah.Bahkan dalam dunia politik namanyapun sangat terkenal.
Pengalamannya mengunjungi 63 kota besar di 23 negara demi kepentingan berdakwah dan kegiatan sosial mengharumkan namanya sehingga ia layak dianugrahi gelar doctor honoris causa bidang dakwah Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah dan gelar professor dari federation al munawarah,Berlin,Jerman.
Mantan Menteri Negara Peranan Wanita dalam dua pemerintahan berbeda ini dimana pada cabinet pembangunan VII tahun 1998 zaman Sueharto dan cabinet Reformasi Pembangunan era Habibie ia adalah orang betawi asli.Ia dilahirkan pada 30 Maret 1942 di Jakarta dari orang tua pasangan KH.Abdullah Syafi’i dan Hajjah Rogayah.
Atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan Islam , pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putra Pratama.Pemerintah Khusus Ibukota Jakarta pun menggunakan namanya sebagai nama jalan utama menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar.
Mubalighoh kondang dan rector universitas islam as-syafi’iyah ini mempunyai visi bahwa perempuan Indonesia adalah pilar bangsa.Kemampuan intelektualnya dan banyaknya jam terbang menjadi pembicara dan penceramah di berbagai kota di lima benua ,hanyalah sedikit bahwa perempuan memiliki kesempatan dan hak yang sama dengan laki laki dalam berkarya di berbagai sector bagi bangsa ini.
Tutty pernah diundang pemerintah Amerika Serikat pada 1984 untuk bertemu para tokoh dari berbagai agama ,tokoh tokoh pendidikan dari perguruan tinggi, tokoh tokoh wanita, dan mengunjungi lembaga lembaga sosial dan keagamaan.
Tutty ialah pendiri banyak organisasi dan institusi Islam di Indonesia.Ia pernah bergabung di ICMI,MUI,CIDES dan Organisasi lainnya.
Dalam usia yang masih muda,Tutty sudah banyak mengukir prestasi mengagumkan.Pada usia 7 tahun,ia sudah lancer membaca al-Qur’an .Kemudian ,pada 1951 ketika usianya 9 tahun, ia mendapatkan kesempatan membaca al-Qur’an di Istana Negara.Saat itu , BKOI sebuah organisasi islam,mengadakan acara pertama pengajian Maulida Nabi Muhammad SAW. Di kediaman Presiden Soekarno.Pada saat itu,ia sudah dikenal sebagai qori’ah cilik yang sudah sering menyanyikan lagu qasidah,mulai dari depan kelas, acara pernikahan, hingga mendampingi ayahnya mengajar di masjid masjid di sekitar Jakarta.
Kemahiran Tutty membaca al-Qur’an lengkap dengan tajwid dan lagunya tidak lepas dari ajaran ibunya tercinta,H.Rogayah,seorang ustazah dan qori’ah. Tutty kecil kebagian peran membaca beberapa ayat suci al-qur’an kala ibunya sedang mengajar di kampong kampong. Kemampuannya menulis tulisan Arab Melayu (huruf jawi) juga didapatkan dari ibunya .Sekedar iseng sambil mengasah kemampuan ia dan kakeknya ,H.Muhibbah mendengarkan lagu di radio,seperti “Bengawan Solo”,Hanya engkau.”Sepasang Bola Mata”, dan lagu lainnya.Kemudian, mereka berlomba siapa yang lebih dahulu selesai menulis syair lagu tersebut dalam tulisan Arab Melayu.
Menginjak kelas 2 di Madrasah Islamiyah,Tutty masuk ke Sekolah Rakyat.Meskipunn ayahnya keberatan ,Tutty tetap bersikeras untuk bersekolah di sana karena melihat sepupunya yang lebih tua dua tahun darinya sudah bersekolah disana.Akhirnya Tutty bersekolah di dua tempat,Sekolah Rakyat dan Madrasah.
Di sekolah , Tutty menjadi siswa yang baik dan berprestasi .Pernah suatu kali,Tutty yang bercita cita dapat naik haji ini mendapatkan hadiah arloji karena prestasinya di sekolah. Walaupun begitu,sama seperti layaknya anak kecil yang ingin bermain dan terkadang nakal,Tutty dan sahabatnya Rinjani yang tinggal dibukit duri ,iseng iseng bersepeda hingga ke Kemayoran dan pernah tersesat sampai ke kemayoran Lama.Tutty dan Rinjani sering jalan jalan ,bersama,bermain kasti dan olah raga lari.
Tahun 1951,ketika 40 hari setelah kedua orang tuanya kembali ke Indonesia dari tanah suci Makkah,Ibunda tercinta ,HJ,Rogayah meninggal dunia.Kesepian dan kesedihan yang dialaminya ia lewati dengan kesibukan yang semakin bertambah.
Ia mulai dikenal dan di undang membaca al-Qur’an di mana-mana ,menulis puisi dan artikel yang dimuat dibeberapa surat kabar ibukota,memberikan kursus kursus,dan berceramah didepan umum.
Setahun setelah kepergian ibunya ,pada usianya yang ke-10, Tutty yang sudah mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan permenit.Keterampilan ini menjadi bekalnya untuk memberikan kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah Pancoran.
Seminggu dua kali, Tutty ditemani Dahlia sepupunya,bersepeda bonceng membonceng ke rumah Halimah untuk mengajar dan mendapatkan upah beberapa rupiah.Upah tersebut kemudian mereka bagi dua.
Pengalamannya memberikan kursus ternyata tidak sia sia .Pada usia tiga belas tahun ,Tutty mulai mengajar secara tetap dengan membuka tiga kursus,yaitu kursus Banat As-Syafi’iyah , diisi dengan pelajaran agama,pelajaran Maulid Nabi,dan membaca al-Qur’an ,muridnya berjumlah dua ratus orang lebih,kursus umahat as-syafi’iyah ,khususnya untuk ibu ibu,yang ingin mendalami agama dengan murid seratus orang (dua kelas) dan yang terakhir kursus Tilawatil Qur’an yang diikuti empat puluh orang.
Kursus ini terus berlanjut hingga 1980.Tiga tahun kemudian,pada 1958,kakaknya H.Muhibbah meninggal dunia.Sejak itu,ia dipercaya secara penuh memimpin Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi’iyah dan melanjutkan pengajian setiap sabtu pagi di Masjid Al Barkah.
Cita citanya agar dapat keluar negeri akhirnya terwujud.Melihat bakat Tutty dalam berpidato,membaca al-QQur’an dan mendendangkan lagu lagu qasidah ,sang ayah mengajak tutty berdakwah di singapura dan Malaysia pada 1959.
Di Singapura,ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto,Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia yang datang lebih dari 500 orang. Di Singapura ia mendapatkan pengalaman pertama yang tidak terlupakan.Tutty terpaksa berceramah di depan umum tanpa teks karena naskah ceramahnya ketinggalan,,,,,,
Pengalaman ini menjadi titik balik sehingga dalam ceramah ceramah selanjutnya ia tidak lagi menggunakan catatan tertulis yang baku kecuali dalam seminar atau pidato resmi.Kaset kasetnya mulai banyak beredar di took took kaset di Singapura.
Di Singapura,ia melihat wanita tampil dengan baik dalam segala hal kehidupan,baik muda maupun tua.Mereka memimpin sekolah,seperti ustazah saadah suhaimi di ipoh Lane.Wanita wanita islam berbahasa inggris ,berpakaian trendi,menyetir mobil sendiri, bekerja diluar, dan memiliki organisasi yang mapan.Ia melihat disana seperti tidak ada hambatan untuk maju dan berkarier.Melihat hal ini ,Tutty tertarik ingin menerapkannya kepada kawan kawan dan murid muridnya di Indonesia.
Langkah awalnya adalah dengan memodifikasi baju muslim.Ia terapkan baju dua helai atas bawah dengan berbagai variasi kancing dan belah samping.Ia tidak mau terikat dengan baju berkain panjang.Baginya,pengalaman di Singapura ini, membuka beberapa tali belenggu sempitnya pemikiran terhadap peluang peluang kemajuan untuk wanita terutama wanita islam yang ingin tampil dalam berbagai kesempatan dan kegiatan.
Di Malaysia,ia berdakwah dijohor bahru,Muar, serta batu pahat.Saat itu,ia mendapatkan kehormatan besar karena diundang oleh istri Sultan Johor.Di Masjid Abu Bakar yang megah ia memberikan acara lengkap dari bacaan al-Qur’an ,ceramah,dan ditutup beberapa lagu qasidah serta pujian pujian kepada ROSULULLAH SAW.Dua Permaisuri Malaysia bahkan pernah berkunjung ke pesantren khusus yatim piatu as-syafi’iyah pada tahun 1984 dan 1986.Hingga kini ,Tutty masih sering diundang berdakwah di Malaysia Barat dan Timur.
Selain berdakwah ,masa remaja Tutty juga diisi dengan menulis puisi dan artikel yang di muat di beberapa surat kabar ibukota. Beberapa puisinya seperti : santri, pesantren, Ulama dan Nafiri Ilahi diterbitkan oleh Koran Minggu Abadi dan Berita Minggu.
Usahanya dalam menerjemahkan ayat ayat al-Qur’an ke dalam bentuk puisi membuahkan hasil.Puisinya berjudul “Yusuf yang Agung” menjadi puisi terbaik versi RRI pada tahun 1960 .Penyelenggaraannya adalah Abdul Muthalib,pengasuh rubbrik “Tunas Mekar”.Kebetulan pada waktu itu,ia diajak oleh Mahbub Junaidi,seorang penulis sastra,mengisi acara di sana.
Pada tahun yang sama,Tutty menikah dengan Ahmad Chatib Naseh dan dikaruniai 5 orang putra-putri.Walaupun menikah pada usia muda ,18 tahun dan masih duduk di bangku SMA dengan kesibukan yang bertumpuk,Tutty tetap dapat mengurus keluarganya seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya.Ia berhasil meraih gelar sarjana dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada tahun 1963, ia mulai memperkenalkan seni qasidah di TVRI.Salah satunya dengan menampilkan pelajar menyanyikan lagu lagu As-Asafi’iyah yang diciptakannya sendiri. Lagu lagu ciptaannya direkam ke kaset atas bantuan seorang Qori,almarhumah H.Muhamad Ong.Adapun kaset ceramah direkam di radio As-Syafi’iyah ,sebuah radio yang kemudian dirintisnya pada tahun 1967. Radio ini menyajikan program “Santapan Rohani Pagi”,”Berita Pagi”,”Dunia Selintas Kilas”,Renungan Malam”,”Varia As-Asafi’iyah’,”Pilihan Pendengar”,Pada bulan Ramadhan dibuat program khusus bernama “Renungan Sahur” yang dibawakan oleh Tutty selama 17 tahun,1968-1985.Kaset ceramahnya saat itu laku keras di pasaran Indonesia,singapura,dan Malaysia.
Dalam rangka merayakan ulang tahun As-Safi’iyah ,pada 1968 Tutty mengadakan acara besar di stadion utama senayan yang dihadiri sekitar 60.000 orang.Dalam kurun waktu 10 tahun, 1970-1980,As-syafi’iyah yang dipimpinnya dipercaya untuk menangani kegiatan kegiatan besar,seperti pembukaan MTQ V pada tahun 1972.Saat itu ,As-Syafi’iyah mengerahkan hampir 6000 orang,terdiri atas 2.500 pemain rebana,2000 pesenam indah, dan drum band yang ditangani oleh sebuah organisasi rebana bernama LASQI (Lembaga Seni Qasidah Indonesia),sebuah organisasi yang diprakarsai oleh Tutty dan kawan kawan. As-Syafi’iyah juga memperoleh kesempatan menjadi penanggung jawab acara perpisahan dengan Gubernur DKI Jakarta H.Ali Sadikin dan telah 3 kali mengadakan acara BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) di Stadion Utama yang dihadiri lebih dari 140.000 orang pada 1991,1995,dan 1999.Majelis taklim pada mulanya lahir dari pengajian di Masjid Al-Barkah yang dikelola K.H.Abdullah Syafe’i.Adapun BKMT adalah sebuah organisasi yang berdiri pada tahun 1981 atas prakarsa As-Syafi’iyah dengan mengundang pengurus Majelis Taklim Se-Jabotabek untuk bermusyawarah di Pesantren As-Syafi’iyah .Pertemuan itu dihadiri 1500 pimpinan Majelis Taklim yang mewakili 798 Majelis Taklim se-Jabotabek. Pada usianya yang lebih dari dua decade ,BKMT sudah tersebar di 22 provinsi di seluruh Indonesia dengan jutaan anggota dan belasan ribu majelis taklim.
Saat As-Syafi’iyah genap 50 tahun,Masjid al-Barkah diperluas dengan membebaskan sekitar 16 rumah disekitar masjid.Demi pembangunan ini,Tutty merelakan rumah dan tanahnya yang sudah didiami selama 23 tahun untuk dirobohkan pada bulan Desember 1983.Ia lalu membangun rumah kecil yang tidak jauh dari tempat tersebut.
Ketika pembangunan masjid secara besar besaran baru mencapai 50 % ,KH.Abdullah Syafi’I meninggal dunia pada 3 November 1985.
Terakhir ,April 2003 , Tutty sebagai Ketua International moslem womwn union (IMWU) untuk Indonesia menggelar kongres organisasi international tersebut di Jakarta.Kongres yang melibatkan wakil perempuan dari 87 negara ini membahas isu seputar pemberdayaan wanita dan peran wanita dalam perdamaian dunia.
Maju terus kartini Indonesia,,,,menuju Indonesia satu……………………….INDONESIA.

No comments:

Post a Comment