LEARNING AND INSTRUCTION OF
EDUCATION
“
KEKUATAN MANUSIA UNTUK MENGUBAH DIRINYA SENDIRI,YAKNI UNTUK BELAJAR,MUNGKIN
MERUPAKAN ASPEK YANG PALING MENGESANKAN DARI DIRI MANUSIA”
Belajar (learning) adalah proses multisegi yang biasanya dianggap
sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat
menghadapi tugas yang kompleks. Akan tetapi kapasitas belajar adalah
karakteristik yang membedakan manusia dari mahluk lainnya. Hanya manusia yang
memiliki otak yang berkembang baik untuk digunakan melakukan tindakan yang
memiliki tujuan. Diantara kemampuan itu adalah mengidentifikasikan objek,
merancang tujuan, menyusun rencana, mengorganisasikan sumber daya.
Aktivitas kognitif ini terkait dengan aspek unik dari kecerdasan
manusia. Pertama, manusia mampu mempelajari penemuan,
penciptaan, dan ide-ide dari pemikir besar dan ilmuwan besar dimasa lampau yang
disebut sebagai pengalaman yang diwariskan.
Kedua, individu mampu mengembangkan pengetahuan
tentang tempat dan kejadian yang belum mereka alami secara personal melalui
pengalaman orang lain,disebut sebagai pengalaman sosial. Ketiga,manusia
menyesuaikan lingkungan dengan diri mereka,bukan sekedar beradaptasi dengan lingkungan
. Usaha ini dcapai dengan perencanaan strategi atau membuat sesuatu.
Study belajar bukanlah sekedar latihan akademik; ia adalah aspek penting
baik bagi individu maupun masyarakat .pertama,
bagi individu ,study tentang belajar dapat menjelaskan tentang pemerolehan
berbagai kemampuan dan keterampilan, tentang strategi untuk menjalankan peran
di dunia, serta tentang sikap dan nilai yang memandu tindakan seseorang. Selain
itu, kapasitas untuk belajar terus menerus dapat memperkaya dan meragamkan gaya
hidup. Di masyarakat, kita tidak kaget jika menemikan insinyur yang lihai
memasak atau professor yang memenangkan lomba pembudidayaan mawar. Kedua,
belajar adalah penting bagi masyarakat .Salah satu tujuannya , seperti dicatat
oleh Vygotsky adalah mempelajari tentang nilai,bahasa,dan perkembangan
kultur-pengalaman yang diwariskan. Bayangkan , setiap generasi hanya mampu
mempelajari hal hal secara sepotong sepotong.
Belajar juga merupakan basis untuk kemajuan masyarakat di masa depan.
Perkembangan diciptakan oleh individu yang didasari oleh kemampuan belajar
mereka dan kapasitas mereka untuk menciptakan penemuan baru yang dilanjutkan
dari generasi ke generasi. Mengingat pentingnya belajar bagi masyarakat dan
individu ,maka masyarakat tidak bisa membiarkan proses pendidikan begitu saja.
Dibutuhkan sistem pengajaran tertentu untuk mengajarkan warisan cultural kepada
generasi muda dan mempersiapkan mereka untuk mengambil alih peran produktif
pendahulu mereka . Di masyarakat terdahulu, kebijaksanaan kolektif dan folklore
biasanya diperoleh dari mulut ke mulut. Di masyarakat teknologi , pengetahuan
dan informasi yang tersedia sudah begitu banyak sehingga tidak seorangpun yang
mampu mempelajari semuanya. Karenanya dan area keahlian khusus yang dipilih
oleh individu untuk mereka pelajari secara lebih mencakup proses mempelajari pengetahuan
pengetahuan yang dibutuhkan .
Akan tetapi, situasi masyarakat yang terus berubah menimbulkan tantangan
baru bagi perencanaan dan manajemen belajar. Misalnya , CD, televise satelit,
dan ekspansi internet di abad ke-21
membuat pengetahuan tentang peristiwa ,orang dan tempat menjadi tersedia secara
real time . Lebih jauh , internet
meningkatkan aksesibilitas jenis informasi
lain. Tantangan yang ditimbulkan oleh teknologi ini antara lain kebutuhan untuk
memastikan autensitas informasi , potensi kurangnya interaksi yang bermakna di
dalam instruksi online,dan
kemungkinan isolasi sosial. Implikasinya bagi perencanaan dan manajemen belajar
antara lain adalah “membantu siswa untuk belajar menggunakan pikirannya dengan
baik”. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan keterampilan berpikir yakni penalaran
yang didukung dengan bukti ,mengevaluasi sumber ,serta memeriksa dan
mengevaluasi pendapat yang bertentangan dan bagaimana meningkatkan upaya untuk
melakukan tindakan berpikir tersebut.
Ketiga,
pemelajar (learner) mengonstruksi makna untuk diri mereka sendiri dan dari
konteks dimana mereka tinggal. Yakni, individu memilih informasi dari interaksi
antar-orang dan kejadian interaktif yang terjadi di keluarga ,sekolah,
pertemanan, komunitas, dan lingkungan kerja. Individu kemudian menghubungkan informasi
pilihan itu, dengan pengetahuan yang dimilikinya, dan kemudian menganalisisnya,
dan mengonstruksi suatu representasi di dalam memori. Menurut, pendapat tentang
belajar ini, pengetahuan dipikiran adalah berdampingan dengan hubungan hubungan
yang merupakan bagian dari lingkungan masyarakat dan interpersonal. Dari
prespektif ini, setiap generasi baru menyusun masyarakat baru bagi dirinya.
Di setiap masa, sains adalah hal hal yang dihasilkan oleh riset, dan
riset tidak lain adalah metode efektif yang telah ditemukan dan sesuai dengan
zamannya. Setiap langkah dalam kemajuan sains atau ilmu pengetahuan akan
bergantung pada langkah sebelumnya,dan proses ini tidak bisa dipercepat hanya
dengan berharap.
Psikologi,disiplin muda pada awal abad ke-20, menghadapi dua pertanyaan
utama : Apa yang seharusnya menjadi focus study , dan apa yang seharusnya
menjadi cakupan disiplin ilmu ini, psikolog juga ingin mengembangkan sains
pasti seperti Fisika dan Kimia. Akan tetapi , disiplin ini belum memiliki
metode riset yang pasti. Dari sini lahir Behaviorisme, yang diperjuangkan oleh
pendirinya , B.Watson. Dalam artikel tahun 1913,Watson menulis judul
“Psychology as the Behaviorist Views It “. Watson mencatat, bahwa selama 50
tahun terakhir psikologi gagal menjadi ilmu pasti. Fokus pada kesadaran dan
proses mental menyebabkan psikologi menemui jalan buntu di mana topic topiknya
sulit untuk ditangani.
Behaviorisme menjadi aliran dominan dari 1920-an hingga 1950-an, namun
ia tidak sepenuhnya bebas dari penantang. Pendapat yang menentangnya, yakni
psikologi Gestalt, menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi
pemecahan masalah dan karenanya ia membahas persoalan kognisi.
Istilah Behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga
asumsi dasar belajar tentang belajar. Asumsi itu adalah :
v Yang
menjadi factor study adalah seharusnya perilaku yang diamati, bukan kejadian
mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
v Perilaku
harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana . Contoh reaksi
behavioral yang diteliti oleh periset
awal antara lain gerak reflex, reaksi emosional yang dapat dilihat, dan respons
motor (gerak) dan verbal.
v Proses
belajar adalah perubahan behavioral . Suatu respons khusus terasosiasikan dengan
kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus
tersebut.
Psikologi Gestalt berfungsi sebagai penentang behaviorisme di
pertengahan abad ke-20 .Gestalt berpendapat bahwa yang diteliti seharusnya
perilaku molar bukan molecular. Gestalt focus pada presepsi dalam belajar.
Organisme merespons keseluruhan ketimbang stimuli spesifik ,organisme stimuli
mempengaruhi stimuli mempengaruhi persepsi, dan individu membangun persepsi
ketimbang hanya menerima informasi secara pasif. Karakteristik tampilan
stimulus yang mempengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas
gambaran (hukum Pragnanz) dan karakteristik lain yang memberi kontribusi pada
kelengkapan struktur atau pola.
Meskipun perhatian utamanya adalah proses perceptual , psikologi Gestalt
juga mengaplikasikan konsep mereka ke bidang lain. Sampai pertengahan 1930-an,
Gestalt telah mendefinisikan isu-isu utama dalam psikologi dipandang dari segi
teori bentuk atau struktur. Perkembangan utama dalam pemikiran dan belajar adalah
pengalaman wawasan , perbedaan antara belajar arbitrer dan belajar bermakna ,
serta studi pemecahan masalah.
Salah satu kesulitan dalam melakukan riset tentang wawasan atau
pemahaman adalah kurangnya definisi yang jelas. Dua karekter ini yang diakui
oleh kebanyakan periset adalah bahwa wawasan (a) merepresentasikan pemahaman
yang jelas tentang inti atau esensi dari situasi dan (b) melibatkan , setidaknya sebagian ,
proses tanpa sadar otomatis yang tidak mencakup penalaran langkah demi langkah.
Model wawasan yang baru difokuskan pada restrukturisasi masalah .
Individu pada awalnya gagal memecahkan masalah meskipun memiliki pengetahuan
yang diperlukan. Kegagalan ini adalah karena tidak menginterpretasikan masalah
secara benar. Ini berarti bahwa orang itu tidak dapat mengaktivasikan cara yang
relevan untuk memecahkan masalah . Restrukturisasi situasi adalah factor
esensial yang dapat menimbulkan pemahaman.
Ada tiga mekanisme untuk merestrukturisasi masalah , yakni : (a)
pengkodean ulang (reencoding ; (b) elaborasi ; (c) relaksasi pembatas.
Pengkodean ulang adalah mengoreksi interpretasi yang tidak tepat atas suatu masalah. Elaborasi adalah mencari informasi yang
sebelumnya terabaikan atau mengingat informasi dari memori jangka panjang.
Relaksasi pembatas adalah penghilangan pembatas yang tidak diperlukan yang
merintangi tindakan. Contohnya adalah masalah dalam kumpulan delapan koin di
mana tugasnya adalah memindahkan hanya dua koin sehingga setiap koin menyentuh
tiga koin lainnya, Batasan yang tidak diperlukan yang biasanya dipahami oleh
pemecah masalah adalah bahwa koin koin itu digeser ke dua dimensi (kiri, kanan,
atas, bawah ) . Akan tetapi, untuk mendapatkan pemahaman yang benar, asumsi itu
harus dibuang , sehingga masing masing dari dua koin dapat ditumpuk di atas
koin lainnya.
Meskipun pemahaman dan wawasan ini tidak dapat diprediksi , kondisi
jangka panjang dan pendek kemungkinan besar akan menimbulkan pemahaman .
persiapan yang lama mencakup ; (a)
lingkungan awal yang memberikan stimulasi intelektual, termasuk keinginan untuk
membaca ; (b) pengembangan sumber informasi yang releven yang saling terkait
menjadi jaringan makna dan asosiasi yang kompleks dan unuk ; (c) studi dengan
lebih dri satu mentor ; (d) mengikuti perkembangan di luar area yang dikuasai.
Faktor factor ini memungkinkan terciptanya hubungan antara ide ide yang berbeda
yang akan menghasilkan terobosan ilmu pengetahuan.
No comments:
Post a Comment