Monday, 13 February 2012

sepercik perjalanan seorang guru

Sekolah sekolah swasta dengan sistem fullday yang sedang menjadi tren saat ini  kebanyakan dimotori oleh tenaga tenaga mudah ,rata rata,mereka memiliki keluarga muda dengan satu,dua,atau tiga anak.Kesibukan mereka jauh melampui kesibukan para guru di sekolah negeri.Namun amat disayangkan ,jaminan,kesejahteraan mereka berada jauh di bawa guru negeri.Karena didasari kekuatan misi belaka ,maka aktivitas mereka di dunia pendidikan itu bisa bertahan.,,,,,,,,,,,,,,,,
Dibandingkan dengan sesama profesi guru saja,yaitu guru negeri,kesejahteraan para guru swasta sudah tak seberapa.Apalagi jika dibandingkan dengan profesi profesi empuk didunia bisnis,politik,atau wiorausaha,tingkat penghasilan profesi guru pastilah jauh dibawahnya.Di sinilah pentingnya seseorang yang sudah membulatkan tekadnya untuk menjadi guru,terutama di sekolah swasta,untuk berhati hati membandingkan diri dengan guru lain yng di negeri atu profesi yang lainnya.
Mari kita bayangkan bersama sama .Para guru biasa berangkat dari rumah pada pukul 06.45 dan pulang sampai dirumahnya lagi paling cepat pukul 15.00.Lantas bagaimana pusingnya seorang guru perempuan dengan tiga anak yang masih kecil kecil di rumahnya? Anak anak itu masih membutuhkan banyak perhatian dan bimbingannya.Alangkah repotnya seorang ibu rumah tangga muda yang sekaligus berprofesi guru.Tugas tugas keguruan yang harus dibawa pulang ,diiringi dengan tugas yang paling utama untuk merawat anak anaknya ,akan sering membuatnya tak sempat lagi mengurus rumah.Alhasil ,setiap hari rumahnya menampilkan kesan yang tak pernah berubah porak poranda,,,,,,,,,,,,
Kondisi ini biasanya sangat potensial memunculkan khayalan khayalan .Khayalan tak lagi menjadi guru ,agar rumah jadi rapi dan tak kalah dengan rumah tetangga sebelah,agar anak anak lebih terawat  atau agar bisa mengurus suami dengan lebih baik.....Bukankah menyambut suami dengan senyum,,,menyiapkan makanan di atas meja dan memilihkan baju yang akan dipakainya.,ketika berangkat kerja adalah ibadah yang sangat mulia/.
Maka,bila seorang guru memilih untuk membela tampilan rumah dengan meninggalkan tugasnya mengajar di sekolah,berarti sama dengan mengorbankan hal yang besar demi hal yang kecil...Apalagi bila motivasi utamanya sekedar membandingkan diri dengan orang lain,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

No comments:

Post a Comment