Thursday, 16 February 2012

sepercik harapan

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif.Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik.Interaksi yang bernilai kegiatan belajar mengajar yang dilakukan ,diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan.Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pengajaran supaya apa yang kita harapkan dapat terpenuhi.
Harapan yang tidak pernah sirna dan setiap guru selalu tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh anak didik secara tuntas.Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru.Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu,dengan segala keunikannya,tetapi mereka juga sebagai mahluk sosial dengan latar belakang yang berlainan.Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya,yaitu aspek intelektual,psikologis dan biologis.
Ketiga asapek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik di sekolah.Hal itu pula yang menjadi tugas guru cukup berat dalam mengelola kelas dengan baik.Akibat kegagalan guru mengelola kelas,tujuan pengajaranpun sukar untuk dicapai.Hal ini kiranya tidak perlu terjadi ,karena usaha yang dilakukan masih terbuka lebar.Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula.Tujuan pembelajaran pun dapat tercapai dengan baik,tanpa menemukan kendala yang berarti.Hanya sayangnya pengelolaan kelas yang baik tidak selamanya dapat bertahan ,disebabkan pada kondisi tertentu ada saja gangguan yang tidak dikehendaki datang secara tiba tiba dari anak didik,dengan gangguan tersebut akhirnya suasana kelas berubah menjadi tidak nyaman,apalagi jika gurunya langsung terbawa oleh keadaan anak,,,maka akan bertambah hancurnya kelaaassss......yang paling harus diutamakan ketika terjadi hal yang demikian guru harus tetap konsentrasi pada tujuan pembelajaran da mengendalikan kelas dengan baik tanpa harus ada siswa yang tidak mengikuti pembelajaran apalagi sampai mengeluarkan siswa.,,,,,,,,,,,,,,salah satu untuk mengatasi kelas yang demikian,guru dapat menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu yang berguna dalam kegiatan mengajar.Pengembangan variasi mengajar yang dilakukan guru dapat mengendalikan kelas dengan baik karena anak tidak merasa jenuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh ketika menghadapi guru tersebut,apalagi dengan media pembelajaran guru akan lebih dekat dengan siswa sehingga lebih mudah mengendalikannya,kalau guru hanya marah marah saja apalagi siswa bermasalah dianggapnya tidak memiliki kemampuan ....maka siswa lebih tdk kan mau mengikuti kegiatan belajar,pedahal belum tentu setiap siswa bermasalah mereka tidak memiliki kemampuan........guru yang bijak tidak memberikan lebeling pada siswanya yang justru sebenarnya menjatuhkan guru tersebut,karena dianggap tidak mampu menguasai kelas dan pelajarannya tidak disukai siswa.......harusnya guru tsb bisa merancang pembelajarannya agar lebih efektif daripada menebar emosi.....................................................

Wednesday, 15 February 2012

Sistem Pengajaran

Pendidikan ,latihan,pengajaran dan teknologi pendidikan,istilah istilah tersebut masing masing memiliki pengertian sendiri sendiri ,berbeda tapi berhubungan erat.Dalam kamus asing ,kita mengenal istilah istilah education,training, dan instruction.
Salah satu pendapat ahli pendidikan ,menyatakan bahwa "training is a kind to following a tightly fenced path,in order to reach a predetermined goal at the end of it.Education is to wonder freely in the fields to left and right of his pathpreferably with a map.Pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian.Dengan demikian,pendidikan mengandung pengertian yang lebih luas.Sedangkan latihan (training) lebih menekankan pada pembentukan keterampilan (skill).Pendidikan dilaksanakan dalam lingkungan sekolah,seadangkan penggunaan latihan umumnya dilaksanakan dalam lingkungan industri  .Kedua istilah itu jelas berbeda.Namun demikian ,pendidikan kepribadian saja jelas kurang lengkap.Para siswa perlu juga memiliki keterampilan.Dengan keterampilan siswa dapat bekerja,berproduksi,dan menghasilkan hal hal untuk memenuhi kebutuhan orang banyak.
Jaaaaaaadi,perbedaan antara kedua istilah itu hendaknya tidak dipertentangkan sedemikian rupa,tetapi perlu di padukan dalam suatu sistem proses yang kita sebut pengajaran.Dalam pengajaran ,perumusan tujuan adalah yang utama dan setiap proses pengajaran senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan .Untuk itu proses pengajaran harus direncanakan .Ketercapaian tujuan dapat dicek atau dikontrol sejauh mana tujuan itu telah tercapai.Itu sebabnya,suatu sistem pengajaran selalu mengalami dan mengikuti tiga tahap yakni analisis (menentukan dan merumuskan tujuan) tahap sintesis(perencanaan proses yang akan ditempuh) dan tahap evaluasi.Karna itu pengajaran perlu inovasi,dan menggunakan media yang relevan demi ketercapaian tujuan pendidikan.Karena itu teknologi pendidikan memberikan kemudahan dalam menjalankan sistem pengajaran yang profesional.


 

Monday, 13 February 2012

sepercik perjalanan seorang guru

Sekolah sekolah swasta dengan sistem fullday yang sedang menjadi tren saat ini  kebanyakan dimotori oleh tenaga tenaga mudah ,rata rata,mereka memiliki keluarga muda dengan satu,dua,atau tiga anak.Kesibukan mereka jauh melampui kesibukan para guru di sekolah negeri.Namun amat disayangkan ,jaminan,kesejahteraan mereka berada jauh di bawa guru negeri.Karena didasari kekuatan misi belaka ,maka aktivitas mereka di dunia pendidikan itu bisa bertahan.,,,,,,,,,,,,,,,,
Dibandingkan dengan sesama profesi guru saja,yaitu guru negeri,kesejahteraan para guru swasta sudah tak seberapa.Apalagi jika dibandingkan dengan profesi profesi empuk didunia bisnis,politik,atau wiorausaha,tingkat penghasilan profesi guru pastilah jauh dibawahnya.Di sinilah pentingnya seseorang yang sudah membulatkan tekadnya untuk menjadi guru,terutama di sekolah swasta,untuk berhati hati membandingkan diri dengan guru lain yng di negeri atu profesi yang lainnya.
Mari kita bayangkan bersama sama .Para guru biasa berangkat dari rumah pada pukul 06.45 dan pulang sampai dirumahnya lagi paling cepat pukul 15.00.Lantas bagaimana pusingnya seorang guru perempuan dengan tiga anak yang masih kecil kecil di rumahnya? Anak anak itu masih membutuhkan banyak perhatian dan bimbingannya.Alangkah repotnya seorang ibu rumah tangga muda yang sekaligus berprofesi guru.Tugas tugas keguruan yang harus dibawa pulang ,diiringi dengan tugas yang paling utama untuk merawat anak anaknya ,akan sering membuatnya tak sempat lagi mengurus rumah.Alhasil ,setiap hari rumahnya menampilkan kesan yang tak pernah berubah porak poranda,,,,,,,,,,,,
Kondisi ini biasanya sangat potensial memunculkan khayalan khayalan .Khayalan tak lagi menjadi guru ,agar rumah jadi rapi dan tak kalah dengan rumah tetangga sebelah,agar anak anak lebih terawat  atau agar bisa mengurus suami dengan lebih baik.....Bukankah menyambut suami dengan senyum,,,menyiapkan makanan di atas meja dan memilihkan baju yang akan dipakainya.,ketika berangkat kerja adalah ibadah yang sangat mulia/.
Maka,bila seorang guru memilih untuk membela tampilan rumah dengan meninggalkan tugasnya mengajar di sekolah,berarti sama dengan mengorbankan hal yang besar demi hal yang kecil...Apalagi bila motivasi utamanya sekedar membandingkan diri dengan orang lain,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Sunday, 12 February 2012

Jawaban UAS Pengembangan sumber belajar


JAWABAN UAS MATA KULIAH : PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR
                                           DOSEN : DR.SAMSUDIN.
Disusun Oleh :
            Nama : M. ROHMAN
                     NIM : 5520100156
UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH JAKARTA
PROGRAM PASCA SARJANA
                                           MEGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN 2012



1.Sumber belajar menurut para ahli adalah sebagai berikut:
@ Menurut Sudrajat,sumber belajar merupakan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar,baik secara terpisah maupun secara terkombinasi ,sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.
@ Menurut AECT,sumber belajar segala sumber yang bisa berupa data,orang dan wujud tertentu yang dapat di gunakan oleh siswa dalam belajar baik secara terpisah maupun secara telekomunikasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
@ Menurut Degeng,sumber belajar sebagai sebagai semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh peserta didik agar terjadi perilaku belajar.
@ Menurut Majid,sumber belajar merupakan segala tempat atau lingkungan sekitar ,benda san orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.
@ Menurut Merril dan Drob,mengatakan bahwa komponen sumber belajar termasuk “audio,television and graphic materials thus created and recordes and the persons employed to participate with the teacher in the creation ,presentation and evaluation.
Jadi,pendapat saya sumber belajar merupakan segala sesuatu yang bisa digunakan dalam belajar sebagai wahana mempermudah siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru.dan juga dengan kegiatan seperti ini membuat guru menjadi berkembang,karena dituntut terus berkreasi dalam mengembangkan setiap materi yang akan disampaikan kepada siswa.


2.Perbedaan sumber belajar dengan bahan ajar adalah sebagai berikut:
@ Kalau sumber Belajar merupakan semua sumber baik berupa data,orang,atau benda yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas kemudahan belajar bagi siswa. Misalnya : tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu : dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku,maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar. Seperti : perpustakaan,pasar,museum,sungai,gunung,dan sebagainya.
@ kalau bahan ajar merupakan materi pembelajaran secara garis besar terdiri dari pengetahuan ,keterampilan,dan sikap yang harus di pelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan .
Contoh : kursi adalah tempat duduk tetapi memiliki tempat duduk yang berkaki empat ada tempat sandaran dan lengan lengannya.


4.
                            RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
                                          SMA : CAHAYA MADANI PESONA
                                     Pelajaran : Geografi
                            kelas/Semester : X (sepuluh)/1 (satu)
                   Standar Kompetensi : 1. Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan geografi
                       kompetensi Dasar : 1.1. Menjelaskan Konsep Geografi
       Indikator Pencapaian Kompetensi: - Menguraikan konsep geografi
  - Menguraikan perkembangan ilmu geografi
                          Alokasi Waktu : 1 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu
- Mendeskripsikan pengertian geografi dari berbagai pakar
- Membandingkan perkembangan ilmu geografi dari berbagai aliran
- Mengidentifikasikan konsep esensial geografi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Karakter siswa yang diharapkan :
§ Kerja keras, Jujur, saling menghargai
.
Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif :
§ Kerja keras, jujur, saling menghargai orang lain, inovatif, 

B. Materi Pembelajaran
- Pengertian geografi
- Perkembangan ilmu geografi
- Konsep esensial geografi
C. Metode Pembelajaran
Ceramah, tanya jawab, diskusi, , pemberian tugas
D. Sumber/ Bahan/ Alat Belajar
- Buku-buku penunjang yang relevan
- Lingkungan sekitar.
- Gunung,hutan,sawah,maupun perkebunan.
Strategi Pembelajaran
Tatap Muka
Terstruktur
Mandiri
· Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek geografi
· Menguraikan konsep geografi
· Siswa dapat Menguraikan perkembangan ilmu geografi.
E. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
· Apersepsi: guru menyapa siswa, kemudian mengabsen.
· Guru memberikan motivasi mengenai materi yang akan diajarkan dan apa manfaatnya, serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
· Guru menjelaskan pengertian geografi secara garis besar . (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
· Penugasan secara individu, siswa mencari pengertian geografi dari lingkungan tempat tinggalnya masing masing. (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
· Tanya-jawab berdasarkan hasil temuan siswa dilingkungannya masing masing. (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
· Bersama-sama (guru dan siswa) membahas perkembangan ilmu geografi dari berbagai aliran dan pandangan tokoh yang ada di buku pelajaran,kemudian di sesuikan dari pengertian masing masing siswa.. (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
· Bersama-sama mendiskusikan konsep esensial geografi dalam pengajaran geografi dan penerapannya dalam kehidupan . (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
· Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
· Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.)
3. Kegiatan Penutup
A. Bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dibahas, kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang dimengerti. (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
B. Guru memberi tugas individu untuk membuat ringkasan materi “Hakikat Geografi”. Tugas ini dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. (nilai yang ditanamkan: Kerja keras, Jujur, saling menghargai.);
F. Penilaian
- Penilaian untuk tugas karangan mencari pengertian geografi dari lingkungan masing masing.
- Penilaian untuk keaktifan siswa dalam berdiskusi mengenai perkembangan ilmu geografi dan konsep esensial geografi.
Penilaian berdasarkan pada rubrik penilaian berikut ini.
Rubrik Penilaian Karangan
Sikap/Aspek yang dinilai
Nilai kualitatif
Nilai kuantitatif
Deskripsi (Alasan)
Pengantar menunjukkan isi
Pengantar disajikan dengan bahasa yang baik
Isi menunjukkan penjelasan dari kutipan/pendapat tokoh
Isi disajikan dengan bahasa yang baik
Penutup memberi kesimpulan akhir terhadap kutipan/pendapat tokoh
Penutup disajikan dengan bahasa yang baik
Nilai rata-rata
Komentar
Rubrik Penilaian Diskusi
Sikap/Aspek yang dinilai
Nilai kualitatif
Nilai kuantitatif
Deskripsi (Alasan)
Pemahaman materi pembahasan
Kemampuan melakukan analisis
Kemampuan menyampaikan pendapat
Partisipasi dalam diskusi
Kemampuan penggunaan bahasa yang baik dalam diskusi
Nilai rata-rata
Komentar
Kriteria Penilaian:
Nilai kualitatif
Nilai kuantitatif
Memuaskan
4
> 80
Baik
3
68 - 79
Cukup
2
56 - 67
Kurang
1
< 55
Mengetahui,                                                                                 kubang,15 Juli 2011
Kepala   sekolah                                                                          Guru   Geografi

DR.SAMSUDIN                                                                      M.ROHMAN.S.Pd.I

Tuesday, 7 February 2012

Perencanaan pembelajaran menggunakan media


PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MEDIA
  
DISUSUN OLEH KELOMPOK 6:
Cecep Sutisna,ST.
M Rohman,S.Pd.I
Dra. Hj.Mudzakiratul Umah
Hj.Devi Rahayu,S.Pd
Hj.Yeni Rokhmatika, S. Ag
KELAS SERANG PROVINSI BANTEN PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM ASS-SYAFI’IAH JAKARTA
 PROGRAM STUDY TEKNOLOGI PENDIDIKAN 
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Kegiatan menyusun rencana pembelajaran merupakan salah satu tugas penting guru dalam memproses pembelajaran siswa. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional yang dituangkan dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa salah satu komponen dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yaitu adanya perencanaan pembelajaran yang di dalamnya menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
Agar  proses pembelajaran dapat terkonsepsikan dengan baik, maka seorang guru dituntut untuk mampu menyusun dan merumuskan Perencanaan pembelajaran secara jelas dan tegas. Oleh karena itu, melalui tulisan yang sederhana ini akan dikemukakan secara singkat tentang apa dan bagaimana merumuskan perencanaan pembelajaran menggunakan media. Dengan harapan dapat memberikan pemahaman kepada para guru dan calon guru agar dapat merumuskan perencanaan pembelajaran secara tegas dan jelas dari mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya..
Tugas utama seorang guru ialah mengajar yang berarti membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan tertentu atau kompetensi. Tujuan atau kompetensi tersebut telah dirumuskan dalam kurikulum yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan proses pembelajaran.
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengorganisasi, memfasilitasi  dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Proses pembeajaran tidak bisa dipisahkan dari perencanaan pembelajaran. Dan perencanaan pembelajaran harus dengan sengaja diorganisasikan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan baik agar dapat menumbuhkan proses belajar yang lebih  supaya apa yang didapat pada gilirannya dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Dalam proses pendidikan, perencanaan pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dan memainkan peranan yang sangat besar dalam mengidentifikasi keberhasilan suatu program pendidikan. Pada dasarnya perencanaan pembelajaran dimaksudkan untuk memperoleh data atau informasi tentang jarak dan situasi yang ada dan situasi yang diharapkan dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu. Dengan menggunakan data dan informasi yang ada, guru dapat mengambil keputusan tentang kegiatan belajar mengajar selanjutnya.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka harus mampu menerapkan penggunaan media sebagai sarana dalam pelaksanaan perencanaan pembelajaran. Media pembelajaran salah satu yang  merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar yang diharapkan dengan menggunakan pemanfaatan media, seharusnya merupakan bagianyang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menerapkantapkan media pembelajaran agar dapat mengektifitaskan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran.
B.   Tujuan penulisan
Berdasarkan uraian diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui tentang perencanaan pembelajaran di sekolah.
  2. Untuk mengetahui cara mendesain pembelajaran dengan melibatkan media.
  3. Untuk mengetahui cara perencanaan evaluasi belajar di sekolah.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode  untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.
Pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru, tetapi memungkin berinteraksi dengan semua sumber belajar yang dipakai untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu pembelajran memusatkan pada bagaimana membelajarkan siswa dan bukan pada apa yang dipelajari siswa. Adapaun perhatian terhadap apa yang dipelajari siswa merupakan bidang kajian dari kurikulum yakni mengenai apa isi dari pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar tercapai tujuan tersebut. Dalam kaitan ini hal-hal yang dapat diperhatikan dalam mencapai pembelajaran adalah bagaiman cara menggorganisasi pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada dan dapat berfungsi secara optimal.
Berikut ini definisi tentang perencanaan pembelajaran menurut para ahli
a.    Ritchy
Ilmu yang merancang detail spesifik untuk pengembangan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas penegetahuan diantara satuan besar dan kecil persoalan pokok.
b.    Smith & Ragan
Proses sistematis dalam mengertikan prinsip belajar dan pembelajaran ke dalam rancangan untuk bahan dan aktivitas pembelajaran. Proses sistematis dan berfikir dalam mengartikan prinsip belajar dan pemebelajaran ke dalam rancangan untuk bahan dan aktivitas pemebelajaran.
c.    Zook
Proses berfikir sistematis untuk mebantu pelajar memahami (belajar)
d.    Ibrahim
Kegiatan merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pembelejaran, cara apa yang dipakai untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, materi apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan, serta alat atau media apa yang diperlukan.
e.    Banghart dan Trull
Proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
f.     Toeti Sukamto
Pengembangan pembelajran yang merupakan sebgai sistem yang akan terintegrasi dan terdiri dari beberapa unsur yang salin berinteraksi.
g.    Nana Sudjana
Kegiatan memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (PBM) yaitu dengan mengkoordinasikan (mengatur dan merespon) komponen-komponen pembelajaran sehingga arah kegiatan (tujuan), isi kegiatan (materi), cara penyampaian kegiatan (metode dan teknik), serta bagaimana mengukurnya (evaluasi) menjadi jelas dan sistematis.
B.    Pengertian Media
Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Media menurut AECT adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Sedangkan gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar.
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.
Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun penyajian materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan  guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada.
BAB III
PEMBAHASAN
A.   Perencanaan Pembelajaran Menggunakan Media
Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.
Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan teus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar.
Secara umum manfaat perencanaan pembelajaran menggunakan media adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien.
Sedangkan secara lebih khusus manfaat perencanaan pembelajaran menggunakan media adalah :
  1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2.    Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3.    Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4.    Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5.    Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
6.    Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar.
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
7.    Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.
B.    Desain Pembelajaran (Intructional Designe) Yang melibatkan Media
    1. Pengertian Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Sementara itu desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.
Dengan demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.
2.    Komponen Utama Desain Pembelajaran
Komponen utama dari desain pembelajaran adalah:
  1. Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) Adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar.
  2. Pembelajar (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat.
  3. Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
  4. Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar. Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
  5. Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang sudah dikuasai atau belum.
  6. Teori-teori Pembelajaran dalam Desain Pembelajaran
Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermedia teknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (student oriented). Dengan kata lain, penggunaan media menggunakan audio visual atau komputer media dapat membantu siswa itu memperoleh pelajaran bermanfaat. Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual, Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu teori behaviorisme, kognitifisme dan konstruktivisme. Yaitu  sebagai berikut:
  1. Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai “kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat diobsevasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur sebagai indikator belajar.
2.    Teori Kognitivisme
Kognitivisme membagi tipe-tipe pembelajar, yaitu: 1) Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan teman-temannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu; 2) Pembelajar tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan tindakan; 3) Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori dan melakukan analisis sistematis. 4) Pembelajar tipe eksperimentasi aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik dan informasi.
3.    Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan pengetahuan.
       4.    Model-model Desain Pembelajaran
Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar.Model berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah model ASSURE. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video pembelajaran, multimedia pembelajaran, atau modul. Contoh modelnya adalah model hannafin and peck.
Satu lagi adalah model beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum sekolah, dll. contohnya adalah model ADDIE. Selain itu ada pula yang biasa kita sebut sebagai model prosedural dan model melingkar. Contoh dari model prosedural adalah model Dick and Carrey sementara contoh model melingkar adalah model Kemp.
Beberapa contoh dari model-model diatas akan diuraikan secara lebih jelas berikut ini:
1.    Model Dick and Carrey
Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey (1985). Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah:
a.    Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
b.    Melaksanakan analisi pembelajaran
c.    Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
d.    Merumuskan tujuan performansi
e.    Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan
f.     Mengembangkan strategi pembelajaran
g.    Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
h.    Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
i.     Merevisi bahan pembelajaran
j.     Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
Model Dick and Carey terdiri dari 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
Langkah awal pada model Dick and Carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran  Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan.
Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar (1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran, (2) adanya pesatuan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, (3) menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
2.    Model Kemp
Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar jika ditunjukkan dalam sebuah diagram. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:
a.    Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b.    Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c.    Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
d.    Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
e.    Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang   pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g.    Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h.    Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
3.    Model Assure
Model assure merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:
  • Evaluate and Revise
  • Analyze Learners /Analisis Pelajar
Menurut Heinich et al (2005) jika sebuah media pembelajaran akan digunakan secara baik dan disesuaikan dengan ciri-ciri oelajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich, 2005 menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan ciri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar :
  • States Objectives /Menyatakan Tujuan
  • Select Methods, Media, and Material/Pemilihan Metode
  • Utilize Media and materials/Penggunaan Media dan bahan
  • Require Learner Participation /Partisipasi Pelajar di dalam kelas
4.    Model Addie
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement- Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
  • Analisis
  • Desain
  • Pengembangan
  • Implementasi
  • Evaluasi
5.    Model Hanafin and Peck
Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase pengembangan dan implementasi (Hannafin & Peck 1988). Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk.
C.    Perencanaan Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pembelajaran. Pengertian dari evaluasi adalah :
1.    Evaluasi adalah suatu proses yang terus menerus, sebelum, sewaktu dan sesudah proses belajar mengajar.
2.    Proses evaluasi senantiasa diarahkan ke tujuan tertentu, yakni untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran.
3.    Evaluasi menuntut penggunaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan.
Evaluasi berkenaan dengan proses yang berhubungan dengan pengumpulan informasi yang memungkinkan kita menentukan :
  1. Tingkat kemajuan pengajaran
  2. Ketercapaian tujuan pembelajaran.
  3. Bagaimana berbuat baik pada waktu-waktu mendatang.
Evaluasi meliputi pengukuran dan penilaian. Pengukuran berakaitan dengan ukuran kuantitatif, sedangkan penilaian terkait dengan kualitas (Suharsimi Arikunto).
BAB IV
KESIMPULAN
Pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode  untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.
Media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Manfaat media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
Evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah B. Uno.2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2002. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Omar Hamalik.2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Bumi Aksara
Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses
W. James Popham dan Eva L. Baker.2005. Teknik Mengajar Secara Sistematis (Terj. Amirul Hadi, dkk). Jakarta: Rineka Cipta.
W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo.
Ruhimat, Toto, (2009), “Kurikulum & Pembelajaran” jurusan kurtekpend, fakultas ilmu pendidikan, universitas pendidikan Indonesia.